GARA-GARA BAKUL CILOK
malam itu angin serasa sangat sejuk di keheningan malam, sakur yang akrab dipanggil si kaki dingklik oleh kawan-kawannya pulang bersama itris,si gojal, kecrit (solihin) dkk setelah mengikuti acara muhafadoh al fiyah ibn malik dari pondok putri. Dalam perjalanan mereka sangat akrab dengan canda tawa dan guyon ledek(baca : mengejek) mereka hingga tak terasa sampailah mereka di asrama putra tempat mereka mengaji. Selepas menghilangkan lelah dengan hidangan yang di ambil oleh si kecrit berupa meminum arkol (air kolam)atau minuman favorit santri tempo dulu. Merekapun berniat meneruskan canda dengan duduk bersama sambil membicarakan idola-idola putri mereka. Angin sepoi mulai bersahaja Sakur pun membuka curhatnnya tentang cintanya yang tak sampai, disusul dengan itris yang kelihatnnya malam itu sangat bahagia sekali karena dapat kiriman (parcel)dari fens beratnya dua hari yang lalu.
“kiriman wingi aja di kandakna tris, belih weruh wengi kie kita hanya bisa minum segelas arkol zamzam asli dari jawa” pelak si sakur.
namun lain dengan si gojal yang keadaanya hanya bisa mengelus-elus rambut ubannya ketika mendengar berita-berita hotline seputar idola putri, memang si gojal itu tergolong mental down dengan laqob orang bermutu alias bermuka tua.si gojal dengan umur sekitar kepala 2 namun rambut sudah mengidap penyakit widakan(umur sekitar sewidakan,baca :jawa-enam puluhan) dia merasa minder tidak laku di depan teman-teman putrinya.
Di tengah kehangatan gurau mereka solihin alias si kecrit mendadak beranjak dari tempat duduknya menghampiri pak darum yang kebetulan malam itu standby jualan cilok di sekitar pondok. Mereka pun terperanjat mengalihkan pandangannya semua ke pak darum,dan…
“ngomong-ngomong pak darum beristri tiga ya!”celoteh si sakur.
“masa kur…dengan hanya jualan cilok bisa beristri tiga?”itris mencoba meyakinkan.
“iyaa,,bener.”sahut si sakur
“hebat y…Cuma dengan jualan cilok tiap malam bisa bergilir tidurnya.”si gojal
“y itulah hebatnya tukang cilok di pondok, berkah segalanya, ya ciloknya ,ya rizkinya sampai istrinyapun berkah bisa bertambah”jawab si sakur.
“tapi kemungkinan bisa lebih hebat dan lebih berkah apabila kamu yang jualan kur..!” sambung si kecrit hangatkan suasana
“alasanya”….sakur penasaran
“ya iyalaah….coba sekarang lihat wajah kamu ga jelek amat di banding pak darum, performens oke, yaa paling sedikit jingjet kaki kamu itu tak berpengaruh, mungkin cewe-cewe banyak yang terkesima melihat antum kur”pendapat si gojal.
“ahc masa iya” pelak si sakur sambil menggerutukan dahinya
Ahirnya tak lama kemudian muncul ide cemerlang dari si gojal. Dia langsung menhampiri pak darum.
‘pak kira-kira kalo gerobak jualannya di sewa boleh ga???”gojal mencoba menawarkan jasa
“jangankan disewa nak, di pinjam juga boleh asal dagangan saya ikut dijualkan”pak darum mencoba mengakrabinya.
Seketika itu terjadilah transaksi penyewaan gerobak cilok antar si gojal dan pak darum.dan selebaran itu ahirnya di umumkan ke teman-teman si gojal.
“teng…teng…teng….teman-teman siapa yang berani menjual cilok di asrama putri besok pagi star jam setengah 8 sampai jam 2 siang saya kasih hadiah uang tunai 150 000 rupiah.” sayembara gojalpun di umumkan.
“yang benar saja jal, kamu ga bercanda tuhc..!”sambung si sakur.
“oke banget tuc jal, saya ikut jadi nyumbang 50 ribu dech kalo ada yang mau !.si itris memperjuangkan.
Sakur yang kelihatanya sedang terjepit dengan keadaan keuangannya (maklum tanggal tua belum dapat wesel) dan sisi lain pengen rasa cintanya terluapkan pada si cepon alias cewe pondok, dia tak berfikir panjang.
“oke jal, saya mau tapi ingat y kamu jangan bohong dengan uang jaminan 150 ribunya dan tolong saya nanti di ijinkan untuk tidak masuk sekolah”sakur mencoba jaim pada teman-temanya.
“beres kur….dijamin”.jawab gojal disertai riukan tepuk tangan riang membayangkan si sakur yang berjalan dengan kedingklikanya menggendong gerobak jualan cilok di depan anak-anak putri.
Esok haripun tiba, saat udara berembun menebarkan aroma sejuk dipelapuk hidung, senandu kicau burung pagi membuka mengirim salam menyambut kerlipan sinar mentari pada embun yang menempel pada dahan dedaunan. Pak darum yang tak seperti biasanya berjualan di waktu senja kini tiba di pagi hari untuk mengirim pesanan gerobak dan sarana lainnya seperti terompet plastic dari botol aqua sebagai nada dering penanda jualan cilok menyiapkan segalanya dengan komplit hingga tak tertinggal segelintir pun dari pernak perniknya.
Jam menunjukan pukul 7.15 menit waktu bel sekolah berbunyi sakur pun mulai bergegas diri memakai celana levis dengan switer hitamnya dan walkman serta headset untuk menutupi ejekan teman – temannya, mulailah sakur mendekati gerobak pak darum dan langsung dia angkat tanpa mempertimbangkan perihal beban angkut yang di angkatnya karena malam hari sakur berhasil lolos uji kompetensi tentang pengangkatan gerobak,perjalananpun dimulai untuk menjual cilok dengan mengorbankan jam sekolahnya, sementara Si gojal, si kecrit dan itris serta teman –teman lainnya dari satu kelas tertawa terpingkal-pingkal disertai gemuruh ejekan mengiring si sakur menggendong gerobak cilok dari pondok putra sampai pondok putri.prrreeeeet..preet…prêt….. preeeetttss…preeetc….(alunan terompet aqua buatan pak darum berbunyi).
Satu hari kemudian sakurpun di panggil oleh pak muntahin selaku wali kelas sekolahnya dan di introgasi supaya tidak mengulangi kebiasaan buruk itu yakni tidak masuk sekolah hanya untuk berjualan cilok dengan motif ingin di sanjung dan mendapatkan cintanya pada si cepon.
